Bahasa Indonesia Kelas X - Adrean, S.Pd.

Table of Contents



 Teks Laporan Hasil Observasi

1. Materi

Penjelasan tentang pengertian, struktur, kaidah kebahasaan, dan contoh teks laporan hasil observasi. KLIK DI SINI

2. Tugas Praktik

Murid melakukan observasi terhadap objek tertentu yang sesuai dengan jurusan DKV (misalnya: ruang studio, alat desain, kegiatan produksi konten), lalu menyusun laporan hasil observasinya dalam bentuk teks tertulis. KLIK DI SINI


TUGAS BARU:

LKPD Bahasa Indonesia

Materi: Teks Laporan Hasil Observasi

Kelas: X DKV

Tujuan Pembelajaran

  • Siswa mampu membuat teks laporan hasil observasi sederhana dengan struktur yang benar.


Petunjuk Pengerjaan

  1. Pilih satu objek di sekitar sekolah atau rumahmu (contoh: perpustakaan, kantin, taman, hewan peliharaan, tanaman).

  2. Amatilah objek tersebut selama ±10 menit.

  3. Catat hal-hal penting tentang objek itu.

  4. Susun laporan hasil observasi dalam bentuk teks 3–4 paragraf dengan ketentuan:

    • Paragraf 1: Definisi umum (apa yang diamati).

    • Paragraf 2: Deskripsi bagian (ciri, bagian, atau karakteristik objek).

    • Paragraf 3: Deskripsi manfaat atau kesimpulan.


Format Jawaban

Judul Laporan: ..............................................

Definisi Umum (Paragraf 1):
..............................................................................
..............................................................................

Deskripsi Bagian (Paragraf 2):
..............................................................................
..............................................................................

Manfaat/Kesimpulan (Paragraf 3):
..............................................................................
..............................................................................


👉 Kumpulkan tugasmu dalam bentuk tulisan tangan di buku atau diketik di kertas A4.


3. Tugas Pilihan Ganda

Soal pilihan ganda untuk menguji pemahaman murid terkait struktur teks, isi laporan, dan kaidah kebahasaan teks laporan hasil observasi. KLIK DI SINI


                                                     Teks Anekdot

KLIK DI SINI UNTUK AKSES MATERI DAN PENUGASAN

Judul:

Ujian Tanpa Internet


1. Abstraksi (pengantar cerita)

Suatu pagi di sebuah sekolah kejuruan, para siswa tampak panik karena ujian tiba-tiba diadakan secara offline setelah sekian lama ujian menggunakan Google Form.


2. Orientasi (awal kejadian)

Guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas dengan membawa setumpuk kertas. Sambil tersenyum ia berkata,

“Anak-anak, hari ini kita ujian tanpa internet.”
Kelas langsung riuh. Beberapa siswa terlihat bingung, sebagian lagi mulai mencari sinyal Wi-Fi seolah masih bisa menolong mereka.


3. Krisis (masalah utama yang lucu atau menyindir)

Salah satu siswa, Riko, angkat tangan dan bertanya dengan polosnya,

“Bu, kalau ujian tanpa internet, berarti kita nggak boleh pakai ChatGPT, ya?”

Guru menjawab,

“Tentu saja tidak. Kalian harus pakai otak sendiri.”

Riko menghela napas panjang lalu berkata lirih,

“Berarti server utama saya down, Bu…”


4. Reaksi (tanggapan atau penyelesaian masalah)

Seluruh kelas tertawa. Guru hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berkata,

“Nah, sekarang saatnya kalian reboot otak masing-masing dan mulai menulis.”


5. Koda (penutup atau pesan)

Sejak hari itu, setiap kali guru menyebut kata offline, para siswa langsung siap-siap membawa otak cadangan — alias belajar sungguh-sungguh.



TUGAS


Tugas Video: Teks Anekdot / Stand Up Comedy

Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Kelas: X DKV
Nama Guru: Adrean, S.Pd.
Materi: Teks Anekdot dan Stand Up Comedy


Petunjuk Tugas:

  1. Pilih salah satu:

    • Membuat teks anekdot, atau

    • Membuat naskah stand up comedy.

  2. Tulislah naskahnya terlebih dahulu (di buku atau ketik di kertas A4).

    • Naskah harus memiliki struktur yang lengkap, yaitu:

      • Orientasi

      • Krisis

      • Reaksi

      • Koda (penutup)

    • Jika memilih stand up comedy, pastikan naskahnya tetap memiliki unsur kritik sosial atau humor yang mendidik.

  3. Setelah naskah selesai dan disetujui guru, buatlah video penampilan sesuai naskah:

    • Durasi video: 2–3 menit

    • Boleh direkam dengan HP.

    • Suara harus jelas dan tidak terlalu banyak noise.

    • Gunakan ekspresi dan intonasi yang menarik.

  4. Kreativitas sangat dihargai!

    • Boleh menambahkan efek, properti, atau musik pendukung yang sesuai.

    • Jangan menyinggung SARA, individu, atau lembaga tertentu.

  5. Format pengumpulan:

    • File video dikirim melalui Google Drive / link YouTube (Unlisted).

    • Sertakan juga file naskahnya dalam bentuk dokumen atau foto tulisan tangan.

      Kelas X DKV A dikumpulkan paling lambat 21 Oktober 2025

                                                     Teks Hikayat

MATERI AJAR: TEKS HIKAYAT

Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia

Kelas: X

Alokasi Waktu: 2 × 45 menit


A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Mengidentifikasi ciri-ciri dan struktur teks hikayat.

  2. Menjelaskan nilai-nilai moral dan pesan yang terkandung dalam hikayat.

  3. Membedakan antara hikayat dengan bentuk cerita rakyat lainnya.

  4. Menyajikan kembali isi hikayat dalam bentuk lain (cerita ulang, drama, atau video pendek).


B. Pengantar Materi

Hikayat adalah salah satu bentuk karya sastra lama berbentuk prosa yang berisi cerita tentang kehebatan, kesaktian, dan kepahlawanan tokoh-tokoh istana atau tokoh luar biasa lainnya, biasanya disertai unsur mitos dan keajaiban.
Hikayat sering digunakan untuk menghiburmengajarkan nilai moral, atau meninggikan martabat tokoh tertentu.


C. Ciri-Ciri Teks Hikayat

  1. Bersifat klasik (menggambarkan kehidupan masa lampau).

  2. Berkisah tentang tokoh istimewa (raja, pahlawan, orang sakti).

  3. Mengandung unsur magis atau ajaib.

  4. Bahasa klise dan istana sentris (“pada zaman dahulu kala”, “maka tersebutlah kisah”).

  5. Anonim (pengarangnya tidak diketahui).

  6. Mengandung nilai moral dan ajaran hidup.


D. Struktur Teks Hikayat

  1. Abstrak → pengantar isi cerita secara singkat.

  2. Orientasi → pengenalan tokoh, tempat, dan waktu.

  3. Komplikasi → munculnya masalah atau konflik.

  4. Resolusi → penyelesaian masalah.

  5. Koda → penutup, biasanya berisi pesan moral atau kesimpulan.


E. Contoh Singkat

Hikayat Malin Kundang

Dahulu kala di sebuah kampung nelayan, hiduplah seorang anak bernama Malin Kundang bersama ibunya.
Setelah dewasa, Malin merantau dan menjadi orang kaya. Namun ketika ia kembali, ia malu mengakui ibunya yang miskin. Sang ibu kecewa dan mengutuk Malin menjadi batu.
Cerita ini mengajarkan agar kita tidak durhaka kepada orang tua.


F. Nilai-Nilai dalam Hikayat

  • Religius (percaya kepada Tuhan)

  • Moral (taat pada orang tua, jujur, rendah hati)

  • Sosial (peduli sesama, tolong-menolong)

  • Budaya (menjaga tradisi dan adat daerah)


G. Bahasa dalam Hikayat

  • Menggunakan kata arkais (lama): seperti beroleh, maka, titah, duli.

  • Menggunakan kalimat panjang dan berulang-ulang.

  • Sering menggunakan ungkapan hiperbola (berlebihan): “tidak ada tandingan di seluruh negeri”.


H. Tugas Praktik

Tugas 1: Membacakan Hikayat Secara Ekspresif

  • Pilih satu hikayat (misalnya Hikayat Malin KundangSi Miskin yang DermawanHikayat Raja Indera Bungsu).

  • Bacakan dengan intonasi, ekspresi, dan pelafalan yang tepat.

  • Rekam dan kirim dalam bentuk video berdurasi 2–3 menit.

Tugas 2: Ubah Hikayat ke Bentuk Lain (Kelompok)

  • Bentuk kelompok 4–5 siswa.

  • Pilih satu hikayat, lalu ubah menjadi:

    • Drama pendek, atau

    • Cerita bergambar (komik strip), atau

    • Video modernisasi hikayat (contoh: Malin Kundang di era digital).

  • Sertakan pesan moral yang tetap sama.

  • Waktu presentasi maksimal 5 menit.

Penilaian

AspekKriteriaSkor Maksimal
Pemahaman isi hikayatMenunjukkan pemahaman tokoh, alur, pesan25
Kreativitas penyajianMenarik, inovatif, relevan25
Bahasa dan pelafalanJelas, sesuai kaidah bahasa Indonesia25
Kerjasama dan tanggung jawabAktif dan kompak dalam kelompok25
Total100

I. Refleksi

Setelah mempelajari teks hikayat, siswa diharapkan mampu:

  • Meneladani nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

  • Menghargai karya sastra lama sebagai bagian dari budaya bangsa.


MENGENAL MAJAS-MAJAS

. Majas Perbandingan

a. Metafora

Menghubungkan dua hal secara langsung tanpa kata pembanding.
Contoh: Dia adalah matahari dalam hidupku.

b. Simile (Perumpamaan)

Menggunakan kata: seperti, bagaikan, ibarat, layaknya.
Contoh: Wajahnya bersinar seperti rembulan.

c. Personifikasi

Memberi sifat manusia kepada benda mati.
Contoh: Angin malam berbisik pelan di telingaku.

d. Hiperbola

Pelebihan makna secara ekstrem.
Contoh: Aku menunggumu sampai seribu tahun.

e. Litotes

Perkecil makna untuk merendah.
Contoh: Silakan mampir ke gubuk sederhana kami.

f. Metonimia

Mengganti nama benda dengan merek/atributnya.
Contoh: Ayah membeli Aqua di warung (maksudnya air mineral).

g. Sinekdoke Pars Pro Toto

Menyebut sebagian untuk keseluruhan.
Contoh: Sudah dua pasang mata menyaksikan kejadian itu.

h. Sinekdoke Totem Pro Parte

Menyebut keseluruhan untuk sebagian.
Contoh: Indonesia meraih emas di ajang itu.
(Indonesia = atlet Indonesia)

i. Alegori

Majas yang berupa kisah simbolis atau kiasan panjang.
Contoh: Rumah tangga itu bagaikan bahtera yang mengarungi ombak kehidupan.


2. Majas Pertentangan

a. Ironi

Sindiran halus, makna berlawanan dengan kata-kata.
Contoh: Wah, rapimu luar biasa! (Padahal sangat berantakan)

b. Sarkasme

Sindiran kasar.
Contoh: Kepalamu dipakai untuk apa sebenarnya?

c. Sinisme

Sindiran langsung namun tidak terlalu kasar.
Contoh: Saya ragu dia benar-benar peduli.

d. Paradoks

Pertentangan antara pernyataan dan fakta.
Contoh: Ia merasa kesepian di tengah keramaian.

e. Antitesis

Memadukan kata-kata yang berlawanan.
Contoh: Tua-muda berkumpul di lapangan.


3. Majas Penegasan

a. Repetisi

Pengulangan kata/ungkapan.
Contoh: Aku ingin, aku sungguh ingin, kamu memahami perasaanku.

b. Pleonasme

Menambahkan kata sebenarnya tidak perlu.
Contoh: Ia turun ke bawah dari tangga.

c. Klimaks

Urutan meningkat.
Contoh: Dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa hadir di acara itu.

d. Antiklimaks

Urutan menurun.
Contoh: Direktur, manajer, dan satpam pun ikut menyaksikan.

e. Retorik

Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
Contoh: Siapa sih yang tidak ingin bahagia?

f. Paralelisme

Pengulangan struktur kalimat.
Contoh: Engkau adalah doa, engkau adalah harapan, engkau adalah tujuan.


4. Majas Sindiran

a. Satire

Sindiran menggunakan humor.
Contoh: Negeri ini kaya, tapi warganya miskin. Ironis, bukan?

b. Inuendo

Sindiran mengecilkan sesuatu.
Contoh: Dia hanya membuat sedikit kekacauan saja. (Padahal banyak)

c. Antifrasis

Menggunakan kata yang berlawanan sebagai sindiran.
Contoh: Wah, pintar sekali kamu! (Padahal sangat ceroboh)


                                                                     SEMESTER 2

3 Pokok Materi:

1. Teks Negosiasi

2. Teks Biografi

3. Puisi


MATERI TEKS NEGOSIASI

Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Kelas/Semester: X / Ganjil
Materi Pokok: Teks Negosiasi


A. Pengertian Teks Negosiasi

Teks negosiasi adalah teks yang berisi proses tawar-menawar atau perundingan antara dua pihak atau lebih untuk mencapai kesepakatan bersama yang saling menguntungkan.

Contoh kegiatan negosiasi:

  • Tawar-menawar di pasar

  • Negosiasi harga barang

  • Negosiasi kerja sama


B. Tujuan Negosiasi

  1. Mencapai kesepakatan bersama

  2. Menghindari konflik

  3. Mendapatkan keuntungan yang adil

  4. Menjalin hubungan baik antar pihak


C. Ciri-ciri Teks Negosiasi

  • Melibatkan dua pihak atau lebih

  • Memiliki kepentingan yang berbeda

  • Menggunakan bahasa yang santun dan persuasif

  • Menghasilkan kesepakatan

  • Disajikan dalam bentuk dialog


D. Struktur Teks Negosiasi

  1. Orientasi
    Pengenalan situasi dan pihak yang bernegosiasi

  2. Pengajuan
    Penyampaian keinginan atau permintaan

  3. Penawaran
    Proses tawar-menawar antara kedua pihak

  4. Kesepakatan
    Keputusan akhir yang disetujui bersama

  5. Penutup
    Ucapan terima kasih atau penutup percakapan


E. Kaidah Kebahasaan Teks Negosiasi

  • Kalimat persuasif

  • Kalimat tanya dan pernyataan

  • Kata sopan: tolong, mohon, bolehkah, bagaimana jika

  • Bahasa santun dan tidak memaksa


F. PENUGASAN PRAKTIK

Judul Tugas

Video Praktik Negosiasi di Pasar Ngabang

Bentuk Tugas

Kerja kelompok (3–4 orang)


Petunjuk Tugas

  1. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok.

  2. Setiap kelompok melakukan praktik negosiasi langsung di Pasar Ngabang.

  3. Tentukan pembagian peran:

    • Pembeli

    • Penjual

    • Kameramen / Dokumentator

  4. Objek negosiasi bebas (sayur, buah, ikan, sembako, pakaian, dan lain-lain).

  5. Gunakan bahasa Indonesia yang sopan dan persuasif.

  6. Proses negosiasi WAJIB direkam dalam bentuk video.

  7. Durasi video 3–5 menit.


G. TEKNIS & ALUR SUSUNAN VIDEO

1. Opening / Pembuka (±20–30 detik)

  • Salam

  • Perkenalan kelompok

  • Tujuan video

Contoh:

“Halo, kami dari kelompok 2 kelas X …
Pada video ini kami akan menampilkan praktik teks negosiasi di Pasar Ngabang.”


2. Orientasi / Pengenalan Situasi (±20 detik)

  • Menunjukkan lokasi pasar

  • Menjelaskan peran pembeli dan penjual


3. Proses Negosiasi (±2–3 menit)

  • Menanyakan harga

  • Memberikan penawaran

  • Terjadi tawar-menawar

  • Menggunakan bahasa yang santun


4. Kesepakatan (±15–30 detik)

  • Menyampaikan harga akhir

  • Kedua pihak menyatakan setuju


5. Penutup (±20 detik)

  • Ucapan terima kasih

  • Penutup video


H. KETENTUAN VIDEO

  • Video direkam langsung di Pasar Ngabang

  • Suara jelas dan dapat dipahami

  • Tidak mengganggu aktivitas penjual

  • Editing sederhana diperbolehkan

  • Tidak diperbolehkan rekayasa atau akting di kelas


I. OUTPUT TUGAS

🎥 1 video praktik negosiasi per kelompok


J. KRITERIA PENILAIAN

  1. Kesesuaian dengan struktur teks negosiasi

  2. Kejelasan proses tawar-menawar

  3. Penggunaan bahasa yang santun

  4. Kerja sama kelompok

  5. Kerapian dan kualitas video



Teks Biografi

TUGAS VIDEO BIOGRAFI TOKOH INSPIRATIF

Bahasa Indonesia Kelas X

A. Bentuk Tugas

Tugas individu berupa video penceritaan teks biografi, di mana siswa menceritakan kembali riwayat hidup tokoh secara lisan, seolah-olah sedang bercerita.


B. Tujuan Tugas

  • Melatih pemahaman struktur teks biografi

  • Melatih keterampilan berbicara (bercerita)

  • Mengembangkan kepercayaan diri dan kreativitas

  • Mengintegrasikan literasi dan keterampilan media


C. Ketentuan Video

  • Durasi: 2–4 menit

  • Format: video landscape / portrait (bebas)

  • Resolusi minimal: 720p

  • Audio harus jelas

  • Boleh ditambahkan:

    • foto tokoh

    • musik latar (pelan)

    • teks judul/nama tokoh


D. Teknis Pengerjaan (Langkah-Langkah)

  1. Pilih satu tokoh inspiratif
    (pahlawan nasional, tokoh daerah, tokoh pendidikan, tokoh idola).

  2. Cari informasi tokoh dari minimal 2 sumber terpercaya.

  3. Susun teks biografi singkat dengan struktur:

    • Orientasi

    • Peristiwa penting

    • Reorientasi

  4. Ubah teks biografi menjadi naskah cerita lisan
    (bahasa boleh lebih santai, tetapi tetap sopan).

  5. Rekam video:

    • Siswa boleh tampil langsung di depan kamera

    • Boleh sambil menampilkan gambar tokoh

  6. Pastikan cerita:

    • runtut

    • jelas

    • tidak membaca mentah-mentah (boleh melihat poin)

  7. Simpan video dengan format MP4.

  8. Kumpulkan sesuai arahan guru (flashdisk / Google Drive).


E. Struktur Cerita dalam Video (Panduan)

  1. Pembukaan
    “Halo, saya akan menceritakan tokoh inspiratif bernama …”

  2. Orientasi
    Latar belakang tokoh (nama, asal, waktu lahir).

  3. Peristiwa Penting
    Pendidikan, perjuangan, prestasi tokoh.

  4. Penutup / Reorientasi
    Keteladanan dan alasan mengapa tokoh tersebut menginspirasi.


F. Contoh Kalimat Awal (Agar Siswa Tidak Bingung)

“Tokoh yang akan saya ceritakan adalah B.J. Habibie.
Beliau lahir di Parepare pada 25 Juni 1936 dan dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan teknologi Indonesia…”

Post a Comment